Sekarang Dokterku Online dengan wajah baru dan nama baru.

Untuk registrasi member dan diskusi forum,

Silahkan kunjungi web kami yang baru

www.dokterkuonline.com

Home Artikel WASPADAI BAHAYA BATU EMPEDU

WASPADAI BAHAYA BATU EMPEDU

PENDAHULUAN

Batu empedu adalah timbunan kristal didalam kantung empedu atau di saluran empedu. Batu yang di temukan di dalam kandung empedu dalam istilah medis di sebut kolelithiasis, sedangkan batu yang ada di dalam saluran empedu di sebut koledokolithiasis. Besar dan jumlah batu empedu berbeda-beda pada setiap pasien. Sebagian besar batu empedu terbentuk dari kolesterol yang mengkristal, sebagian lainnya terbuat dari pigmen empedu (bilirubin) atau campuran keduanya.

Batu empedu dua kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada laki-laki dan dapat terjadi pada usia berapa pun, namun kejadiannya meningkat seiring bertambahnya usia. Penderita diabetes (kencing manis) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengidap batu empedu. Demikian juga kelebihan berat badan merupakan faktor risiko yang signifikan untuk mengidap batu empedu.

Sebuah studi epidemiologi selama 14 tahun yang dilakukan Harvard Medical School menunjukkan bahwa orang yang memakan lebih banyak makanan lemak tak jenuh beresiko lebih kecil terkena batu empedu.

MENGENAL KANDUNG EMPEDU

Kandung empedu terletak tepat di bawah hati dan berfungsi menyimpan cairan empedu yang diproduksi hati. Organ hati dapat menghasilkan sekitar satu liter empedu setiap hari. Kandung empedu bisa menyimpan sekitar 0,4 liter empedu.

Empedu adalah cairan hijau kekuningan (kadang-kadang kehitaman) yang diperlukan untuk mencerna makanan berlemak di usus kecil. Selain mengandung air (95%), empedu juga mengandung kolesterol, garam empedu, garam mineral dan pigmen. Selama makan, kandung empedu berkontraksi dan mengeluarkan cairan empedu yang kemudian mengalir ke usus untuk membantu mencerna lemak.

BAGAIMANA TERJADINYA BATU EMPEDU ?

Proses pembentukan batu empedu umumnya lambat dan biasanya tidak menimbulkan rasa sakit atau gejala lainnya. Penyebab pasti batu empedu sampai saat ini belum diketahui, namun kemungkinan penyebabnya antara lain disebabkan oleh karena:

  1. Empedu mengandung terlalu banyak kolesterol
  2. Empedu kurang mengandung garam empedu
  3. Gangguan kontraksi pada kandung empedu
  4. Infeksi bakteri dalam saluran empedu
  5. Gangguan darah (anemia sel sabit).
  6. Faktor hormonal yang dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu

Ada 3 tipe batu empedu yaitu:

  1. Batu kolesterol, terutama terdiri dari kolesterol, ukurannya bisa mencapai diameter 1,25 cm sehingga cukup besar untuk menyumbat saluran empedu.
  2. Batu pigmen, terutama terdiri dari pigmen empedu. Batu pigmen hadir dalam jumlah besar namun ukurannya kecil-kecil. Kebanyakan terjadi karena penyakit.
  3. Batu campuran, yang terdiri dari campuran kolesterol dan pigmen empedu yang berasal dari pemecahan lemak. Batu jenis ini paling umum dan dapat berkembang secara bersamaan tetapi cenderung berukuran kecil-kecil.
FAKTOR RISIKO :

Faktor risiko batu empedu dikenal dengan singkatan 4F, yaitu Forty, Female, Fat, Family. Artinya batu empedu lebih umum pada mereka yang berusia di atas 40 tahun, wanita, kegemukan dan punya riwayat keluarga terkena batu empedu.

  1. Usia lanjut. Batu empedu jarang sekali menyerang di usia 25 tahun ke bawah. Sekitar 30% lansia diperkirakan memiliki batu empedu, meskipun kebanyakan tidak menimbulkan gejala.
  2. Wanita. Wanita lebih banyak terkena batu empedu dibandingkan pria. Pada wanita insidennya sekitar 2 per 1000, dibandingkan hanya 0,6 per 1000 pada pria. Pada wanita hamil, kandung empedu menjadi lebih rendah dan batu empedu bisa berkembang. Hormon wanita dan penggunaan pil KB juga diduga ikut berperan.
  3. Obesitas. Kelebihan berat badan merupakan faktor risiko yang kuat untuk batu empedu, terutama di kalangan wanita. Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan memiliki BMI lebih dari 32 memiliki risiko tiga kali lebih besar untuk terkena batu empedu dibandingkan dengan yang memiliki indeks massa tubuh (IMT/BMI) antara 24 - 25. Risiko meningkat tujuh kali lipat pada wanita dengan IMT/BMI lebih dari 45.
  4. Genetik. Bila ada keluarga (orangtua, saudara dan anak-anak) memiliki batu empedu, maka seseorang akan berpeluang 1½ kali lebih mungkin untuk mendapatkan batu empedu.
GEJALA KLINIS :

Sebagian besar batu empedu tidak menimbulkan gejala sehingga seringkali terdeteksi tidak sengaja saat melakukan pemeriksaan USG atau rontgen perut pada waktu seseorang periksa akibat penyakit yang lain. Yang sering terjadi adalah batu empedu keluar dari kandung empedu dan masuk ke dalam saluran empedu. Jika batu empedu secara tiba-tiba menyumbat saluran empedu maka penderita merasakan :

  1. Nyeri tiba-tiba di bagian kanan atas perut yang dapat menjalar hingga ke bahu , tulang belikat dan punggung.
  2. Nyeri biasanya dimulai dalam waktu 30 menit setelah makan makanan berlemak atau berminyak.
  3. Nyeri biasanya intens, berat dan konstan serta dapat berlangsung hingga berjam-jam.
  4. Serangan nyeri bisa kambuh (berulang) dalam hitungan harian, bulanan atau bahkan tahunan.
  5. Dapat disertai mual dan muntah
  6. Kembung atau sendawa.
  7. Gangguan pencernaan
  8. Jaundice (kulit dan mata menjadi berwarna kuning).
  9. Demam sampai menggigil jika terjadi infeksi
KOMPLIKASI

Komplikasi yang sering terjadi akibat batu empedu adalah :

  1. Cholecystitis (peradangan dari kandung empedu)
  2. Pankreatitis (peradangan dari pancreas)
  3. Gangrene kandung empedu, yang terjadi karena putusnya aliran darah ke kandung empedu akibat peradangan (cholecystitis). Tanpa pasokan darah yang cukup jaringan-jaringan yang ada di dalam dinding kandung empedu akan mati. Fatalnya yang akan terjadi adalah infeksi ini akan merobek dan memecahkan kandung empedu.
  4. Jaundice, terjadi akibat saluran empedu yang mengalami sumbatan karena adanya batu empedu di sepanjang saluran empedu .
PENGOBATAN

Pengobatan dalam bentuk apa pun biasanya tidak diperlukan bila batu empedu tidak menimbulkan gejala yang mengganggu. Disarankan bagi penderita agar mengurangi makanan yang berlemak. Pada beberapa kasus di mana gejala yang timbul bersifat ringan atau operasi tidak dapat dilakukan dan berisiko maka obat berbasis asam empedu dapat diberikan untuk memecahkan batu empedu. Namun obat tersebut hanya efektif untuk batu berukuran kecil dan tidak dapat mencegah pembentukan batu empedu bila pengobatan dihentikan. Pengobatan ini memerlukan setidaknya 6 sampai 12 bulan dan berhasil melarutkan batu pada 40-80% kasus. Untuk mengatasi rasa nyeri yang timbul dapat di berikan obat penghilang rasa sakit atau anti spamodik.

Namun jika batu empedu menyebabkan serangan nyeri berulang maka dianjurkan untuk menjalani oprasi pengangkatan kandung empedu (kolesistektomi). Pembedahan bisa dilakukan secara terbuka (kolesistektomi terbuka) atau tertutup (kolesistektomi laparoskopik). Pembedahan kolesistektomi terbuka merupakan cara klasik untuk mengangkat kandung empedu. Prosedur ini membutuhkan luka sayatan perut yang lebih besar dan pasien harus dirawat di rumah sakit selama lima sampai tujuh hari. Sedangkan pembedahan kolesistektomi laparaskopik merupakan metode pembedahan yang kini paling umum dilakukan untuk membuang kandung empedu. Prosedur pembedahan ini, kandung empedu diangkat melalui selang yang dimasukkan lewat sayatan kecil di dinding perut. Keuntungan jenis pembedahan ini adalah dapat mengurangi rasa sakit setelah pembedahan dan memperpendek masa perawatan di rumah sakit dibandingkan dengan operasi terbuka.

Tehnik lainnya adalah dengan pemecahan dengan gelombang suara (litotripsi) atau dengan endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP).

Pengangkatan kandung empedu tidak menyebabkan kekurangan zat gizi dan setelah pembedahan tidak perlu dilakukan pembatasan makanan.

PENCEGAHAN :

Risiko pembentukan batu empedu dapat dikurangi dengan menjalani gaya hidup sehat, terutama untuk menjaga berat badan dengan meningkatkan aktifitas fisik. Menerapkan pola makan yang tidak mengandung banyak lemak jenuh dan tingkatkan asupan serat tampaknya juga membantu mengurangi risiko batu empedu. Sedangkan faktor risiko utama lain seperti usia dan berjenis kelamin wanita jelas tidak dapat diubah.

TIPS BAGI PENDERITA BATU EMPEDU
  1. Batasi makanan berlemak dan memperbanyak makanan berserat, karena serat dapat mencegah pembentukan batu empedu lebih lanjut.
  2. Bila kelebihan berat badan maka turunkan berat badan secara bertahap sangat penting untuk mencegah dan meminimalkan keluhan batu empedu.
  3. Tidak makan sebelum tidur. Makanan kecil sebelum tidur dapat menaikkan garam empedu dalam kandung empedu.
  4. Membiasakan minum kopi dan makan kacang-kacangan. Ada beberapa bukti bahwa kopi bisa mengurangi risiko batu empedu, setidaknya pada orang berusia 40 hingga 75 tahun. Dalam sebuah studi pengamatan pada 46.000 dokter laki-laki selama 10 tahun, mereka yang minum dua sampai tiga cangkir kopi berkafein setiap hari mengurangi risiko batu empedu sampai 40%. Dalam studi lain, konsumsi kacang tanah atau kacang-kacangan lainnya juga berhubungan dengan risiko yang lebih rendah untuk kolesistektomi.
  5. Tambahan suplemen untuk mencerna lemak sangat membantu seperti lecithin dan vitamin B kompleks
  6. Tercukupinya vitamin C dapat mencegah pembentukan maupun memperburuk kasus batu empedu

Prepared by dr Novie Hediyani, MKK

REFERENSI :
  1. http://medicastore.com/penyakit/67/Batu_Empedu.html
  2. http://medicastore.com/images/gallstones.jpg
  3. http://dokteryudabedah.com/cholelitiasis-batu-empedu/
  4. http://majalahkesehatan.com/gejala-dan-pengobatan-batu-empedu/
  5. http://majalahkesehatan.com/gejala-terapi-dan-pencegahan-batu-empedu/
  6. http://www.totalkesehatananda.com/batuempedu4.html
  7. http://oketips.com/8530/tips-kenali-penyebab-gejala-penanganan-batu-empedu/
  8. http://mausehat.wordpress.com/2008/11/13/batu-empedu/
  9. http://batuempedu.org/bahaya-batu-empedu/