Sekarang Dokterku Online dengan wajah baru dan nama baru.

Untuk registrasi member dan diskusi forum,

Silahkan kunjungi web kami yang baru

www.dokterkuonline.com

Home Artikel Dampak Bagi Pekerja Shift (Gilir)

Dampak Bagi Pekerja Shift (Gilir)

PENDAHULUAN               

Normalnya orang bekerja sejak pagi sampai sore, namun sekarang banyak juga pekerjaan yang dilakukan dari malam sampai pagi hari terutama di kota-kota besar. Dengan makin berkembangnya perindustrian dan jasa pelayanan mengharuskan suatu pekerjaan dilakukan 24 jam perhari. Karena keterbatasan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan pasar tersebut, maka konsekuensinya perusahaan harus melakukan pembagian waktu kerja (shift).

Pengertian shift kerja adalah periode waktu kerja dimana suatu pekerja dijadwalkan bekerja secara bergiliran dalam waktu 24 jam. Contoh pekerjaaan yang membutuhkan shift kerja (kerja gilir) adalah dokter, perawat, bidan, polisi, satpam, pekerja pabrik, petugas pemadam kebakaran, wartawan, penyiar radio, pemandu lalu lintas udara, operator jaringan, pilot, bartender dan lain lain.

Menurut Suma’mur, shift kerja merupakan pola waktu kerja yang diberikan pada tenaga kerja untuk mengerjakan sesuatu oleh perusahaan dan biasanya dibagi atas kerja pagi, sore dan malam. Monk dan Folkard mengkategorikan tiga jenis sistem shift kerja, yaitu shift permanen, sistem rotasi cepat, dan sistem rotasi shift lambat. Pekerja yang terlibat dalam sistem shift kerja akan berubah-ubah waktu kerjanya, pagi, sore dan malam hari, sesuai dengan sistem kerja shift kerja yang ditentukan.

MODEL SHIFT KERJA

ILO membedakan 3 tipe shift kerja yaitu diskontinu, semikontinu dan kontinu. Shift juga dibagi menjadi 2 kelompok yaitu shift permanen (tetap) dan dengan rotasi (shift). Dua model shift konvensional yang umum dilakukan adalah:

  1. Continental Rota: 2-2-3 (2)/2-3-2(2)/3-2-2(3)
  2. Metropolitan Rota: 2-2-2(2)

Rotasi yang digunakan pada penulisan diatas menunjukkan: pagi-siang-malam (libur).

Di Indonesia, sistem shift kerja yang banyak digunakan adalah dengan pengaturan jam kerja secara bergilir mengikuti pola 5-5-5 yaitu lima hari shift pagi (08.00-16.00), lima hari shift sore (16.00-24.00) dan lima hari shift malam (24.00-08.00) diikuti dengan dua hari libur pada setiap akhir shift (Kyla, 2008).

DAMPAK SHIFT KERJA

Adnan (2002) mengemukakan bahwa sistem shift kerja terdapat dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya adalah memaksimalkan sumber daya yang ada, memberikan lingkungan kerja yang sepi khususnya shift malam dan memberikan waktu libur yang banyak. Sedangkan dampak negatifnya adalah penurunan kinerja, keselamatan kerja dan masalah kesehatan.

Tidak semua orang dapat menyesuaikan diri dengan sistem shift kerja karena membutuhkan banyak sekali penyesuaian waktu, seperti waktu tidur, waktu makan dan waktu berkumpul bersama keluarga. Secara umum, semua fungsi tubuh berada dalam keadaan siap digunakan pada siang hari. Sedangkan pada malam hari adalah waktu untuk istirahat dan pemulihan sumber energi. Monk mengatakan, individu yang tergolong tipe siang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kerja shift malam. Individu dengan tipe siang adalah individu yang bangun tidur lebih pagi dan tidur malam lebih awal dari rata-rata populasi.

Shift kerja dan kerja malam hari merupakan kondisi yang dapat menghambat kemampuan adaptasi pekerja baik dari aspek biologis maupun sosial. Shift kerja malam berpengaruh : terhadap kesehatan fisik, mental, menganggu irama sirkadian, waktu tidur dan makan, mengurangi kemampuan kerja dan meningkatkan kesalahan dan kecelakaan kerja, menghambat hubungan sosial dan keluarga.

Irama sirkadian adalah proses-proses yang saling berhubungan yang dialami tubuh untuk menyesuaikan perubahan waktu selama 24 jam (Tayyari dan Smith), sehingga seseorang akan terganggu jika terjadi perubahan jadwal kegiatan seperti pada shift kerja karena irama sirkadian atau jam biologis tubuh tidak mampu mengatasi perubahan situasi yang ada.

Tomei dkk (2006) menyatakan bahwa ada kecenderungan meningkatnya kecemasan dan agresivitas pada akhir suatu shift. (Dongen, 2006). Berger dkk (2006)menyatakan bahwa tambahan durasi shift (extended-duration shift), yang didefinisikan bekerja lebih dari 24 jam terus menerus, akan meningkatkan tingkat kesalahan. Lima kali tambahan durasi shift per bulan akan meningkatkan kelelahan sampai 300% dan berakibat fatal.

KERJA GILIR DENGAN KESEHATAN

Shift kerja dapat mempengaruhi kesehatan. Tubuh disinkronkan dengan siang dan malam oleh ritme sirkadian. Seseorang yang bekerja malam atau mulai hari kerja sebelum jam 6 pagi, berjalan bertentangan dengan iritme sirkadian. Hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Didi Purwanto menemukan prevalensi insomnia (sulit tidur) 48,1% dimana prevalensi pada pekerja gilir hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan pekerja non gilir. Kondisi sulit tidur akan sangat mengganggu. Umumnya orang membutuhkan sekitar 6-8 jam tidur dalam sehari, kondisi ini sulit tercapai pada pekerja yang mengalami gangguan tidur akibat shift kerja. Pada orang yang bekerja di malam hari sampai pagi hari, tubuh tidak mengikuti polanya untuk tidur tetapi terus diusahakan terjaga. Pada saat ingin tidur di pagi hari, tubuh tidak melihat adanya sinkron dengan lingkungan yang sudah terang. Kondisi 'kebingungan' tubuh inilah yang memicu adanya suatu gangguan tidur yang terkait dengan shift kerja.Pada saat jam kerja seseorang tidak sesuai dengan irama sirkadiannya, tubuh orang tersebut akan dipaksa untuk tidur saat jam terjaga dan pada saat jam kerja justru dia akan mengantuk. Jika sudah timbul gejala-gejala seperti susah tidur, sakit kepala,rasa lelah saat bangun tidur, mudah tersinggung, berkurangnya kewaspadaan, dan sulit berkonsentrasi merupakan tanda mengalami gangguan tidur. Kondisi yang sering diungkapkan oleh penderita biasanya adalah kesulitan tidur saat jam kerja berakhir atau merasa mengantuk tetapi tidak bisa jatuh tertidur.

Gangguan pencernaan lebih sering terjadi pada pekerja dengan shift kerja. Keluhan umum adalah sembelit dan diare. Studi kasus di Swedia menunjukkan bahwa ulkus peptik (luka pada lambung) lebih sering pada pekerjaan dengan kerja shift dan yang bekerja malam hari seperti supir taksi, pengemudi truk, pedagang keliling, pekerja pabrik, tukang pos. Prevalensi ulkus lambung 2,38% pada pekerja shift dibandingkan dengan 1,03% pada pekerja tanpa shift.

Pekerja shift memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit kardiovaskular dibandingkan dengan pekerja tanpa shift. Studi di Denmark melaporkan adanya peningkatan risiko kanker payudara pada perempuan usia 30-54 tahun yang bekerja di malam hari seperti pramugari, perawat, penyiar dan operator telepon. Theorell dan Åkerstedt menunjukkan bahwa serum konsentrasi kalium, asam urat, gula darah, kolesterol dan kadar lemak total meningkat selama bekerja malam hari. Koller dkk di Austria menemukan prevalensi penyakit metabolik  3,5% pada pekerja shift, dan 1,5% pada pekerja non shift. Prevalensi diabetes (kencing manis) ditemukan meningkat dengan meningkatkan paparan shift kerja.

Pada Kehamilan, menunjukkan adanya hubungan antara shift kerja dengan bayi lahir rendah, kelahiran prematur. peningkatan risiko kegugurandan menstruasi yang tidak teratur.

Para pekerja gilir malam juga beresiko mengalami kanker. Pada saat tidur, kadar sel-sel pembunuh alami dalam darah sangat tinggi. Ini adalah sel penguat daya tahan tubuh, termasuk dari serangan sel tumor atau kanker.

KERJA GILIR DENGAN KECELAKAAAN KERJA

Dari beberapa penelitian, menemukan bahwa faktor manusia menempati posisi yang sangat penting terhadap terjadinya kecelakaan kerja yaitu antara 80-85%. Salah satu penyebab nya adalah kelelahan akibat gangguan tidur yang dipengaruhi oleh kekurangan waktu tidur dan ganguan irama sirkadian akibat shift kerja (Wicken, et al, 2004).

Sharpe (2007) menyatakan bahwa pekerja shift malam memiliki resiko 28% lebih tinggi mengalami cidera atau kecelakaan. Empat kecelakaan terbesar pusat listrik tenaga nuklir disebabkan oleh faktor manusia pada waktu permulaan shift pagi.

Survei pengaruh shift kerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja yang dilakukan Smith et. al, melaporkan bahwa frekuensi kecelakaan paling tinggi terjadi pada akhir rotasi shift kerja (malam) dengan rata-rata jumlah kecelakaan 0,69% per tenaga kerja (Adiwardana dalam Yasir, 2008).

KERJA GILIR DAN KEPUASAN KERJA

Tidak semua pekerja merasakan kepuasan kerja pada shift yang dijalani. Seseorang merasakan kepuasan terhadap pekerjaannya apabila dirinya melakukan pekerjaan dengan baik dengan tingkat kesalahan yang kecil, selain itu kerjasama kelompok dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat mempengaruhi dalam merasakan kepuasan terhadap pekerjaannya.

Biasanya kepuasan kerja yang dialami pekerja apabila mereka mendapatkan jadwal dengan shift pagi atau siang. Ketika menjalani shift pagi atau siang, pekerja masih memiliki tingkat konsentrasi yang baik sehingga lebih teliti dalam menyelesaikan pekerjaannya serta dapat mengurangi kesalahan atau kelalaian saat bekerja.

Sebaliknya, seorang pekerja merasakan ketidakpuasan terhadap pekerjaanya, sebagian besar ketika dihadapkan pada jadwal shift malam. Rasa kantuk yang sering dialami dirinya dan rekan kelompoknya dapat membuat tingkat konsentrasi menurun dalam melakukan pekerjaannya. Menurunnya konsentrasi tersebut seringkali membuat pekerja menajdi tidak teliti dalam melakukan pekerjaanya dan mengakibatkan tingkat kesalahan atau kelalaian semakin besar. Sehingga hasil dari pekerjaan yang mereka lakukan tidak memberikan kepuasan pada diri mereka terhadap pekerjaannya.

TIPS BAGI PEKERJA GILIR (SHIFT) :
  1. Patuhlah dengan jadwal tidur yang teratur, bahkan saat akhir pekan dan tidak bekerja.
  2. Apabila memungkinkan, tidur sebentar dalam tugas shift malam berdampak positif untuk mengurangi kelelahan tanpa mengurangi kinerja (Arora dkk, 2006).
  3. Bekerjalah dengan orang-orang lainnya. Sebaiknya hindari situasi bekerja sendirian di malam hari.
  4. Selepas shift malam, segeralah tidur, jangan tunda waktu tidur anda dengan kegiatan lain atau perjalanan lain, gunakan penutup mata dan upayakan kamar segelap mungkin. Ingat selalu pentingnya menjaga waktu tidur antara 6-8 jam perhari.
  5. Mandi sebelum tidur, lingkungan yang tenang, minum susu, atau membaca di tempat tidur dapat membantu menciptakan kondisi tubuh untuk mempermudah proses tidur.
  6. Untuk mengurangi tingkat kesalahan pada pekerja shift malam, Berger dan Hobbs (2006) menyarankan untuk melakukan tidur siang, menghilangkan kerja lembur hingga lebih 12 jam dan mengerjakan tugas sebelum jam 4 pagi
  7. Lama shift kerja sebaiknya tidak lebih dari 8 jam, jika lebih dari jam tersebut beban kerja sebaiknya dikurangi
  8. Penggantian shift kerja sebaiknya dengan pola rotasi maju dengan waktu rotasi kurang dari 2 minggu dan dengan waktu libur rata-rata 2hari per minggu.

Artikel ini di buat oleh : dr Novie Hediyani,MKK

SUMBER :

Lientje Setyawati M dan Imam Djati Widodo. Faktor dan Penjadualan Shift Kerja, Teknoin, Volume 13 nomor 2, Desember 2008,11-12

  1. http://www.scribd.com/doc/58084712/44/Bagaimana-cara-mengurangi-Stres-Bagaimana-cara-mengurangi-Stres
  2. http://kesehatan.infogue.com/lifestyle_risiko_kerja_malam_hari
  3. http://sleepclinicjakarta.tblog.com/post/1970092386
  4. http://www.konsultank3.com/pdf/jam-kerja.html
  5. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/07KadarLemak102.pdf/07KadarLemak102.html
  6. http://www.celfosc.org/biblio/salud/knutsson.pdf
  7. http://www.betterhealth.vic.gov.au/bhcv2/bhcarticles.nsf/pages/Shiftwork_health_effects
  8. http://152.118.80.2/opac/themes/green/detail2.jsp?id=79584&;lokasi=lokal
  9. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/04/shift-kerja-9/
  10. http://pharos.co.id/news-a-media/beritakesehatan/529-pekerja-shift-dan-gangguan-tidur.html
  11. http://www.detikhealth.com/read/2012/01/16/105808/1816297/775/gangguan-tidur-akibat-shift-kerja?l11755775
  12. http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/11/kelelahan-kerja.html